KONFLIK BESAR DI SURIAH
Perang
saudara di kawasan Timur Tengah ini, cukup menyita perhatian dunia. Terlihat dari banyaknya pihak yang terlibat disana. Ada Iran,
Rusia, Amerika Serikat dan Israel serta tentu saja PBB. Jika dipetakan secara umum, kekuatan di atas
terbagi atas dua kekuatan utama. Rezim yang berkuasa di Suriah, pimpinan Presiden
Bashar Al-Assad, didukung oleh Iran dan Rusia. Sementara kekuatan oposisi yang ingin menjatuhkan Assad, didukung beberapa
negara Islam di Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Sedangkan menurut
saya keterlibatan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Eropa barat
lainya hanyalah untuk kepentingan dan tujuan mereka. PBB juga terlibat atau melibatkan diri dalam upaya
mendamaikan perang saudara di Suriah. Tapi keterlibatan PBB disni tidak
memberikan kemudahan atau keringan bagi para korban karena bantuan yang mereka
berikan seperti setengah hati, tau dalam kata lain apa yang mereka lakukan hanya
sebuah formalitas sebagai organisasi besar di dunia.
Pada bulan Maret tahun 2011, demonstrasi damai meletus di
Suriah. beberapa demontran ditahan dan banyak yang lainnya. Dikatakan ada
beberapa dari mereka yang terbunuh. Pemerintah melakukan tindakan represif
terhadap demontran dan pemberontak dan memenjarakan lebih banyak lagi.
Kemiskinan, urbanisasi karena pemanasan global, yng menyebabkan gagal panen,
juga memperburuk kondisi sosial yang juga memicu kejengkelan terhadap
pemerintah. Pada bulan Juli 2011, beberapa pembelot dari militer mengumumkan
pembentukan FSA (Free Syiria Army), sebuah kelompok pemberontak yang bertujuan
untuk menggulingkan pemerintah. Mulailah terjadi perang sipil di Suriah antara
para pemberontak melawan pemerintah. Kemudian konflik pun dipanasi oleh isu
sektarin. Banyak jihadis berdatangan ke Suria dengan dukungan sipil, individu
atau kelompok bahkan negara. Qatar, Turki dan Saudi dianggap ikut memobilisasi
keadaan tersebut, walau tidak dalam bentuknya yang pasti. Peta Perang
SuriaKonflik itu tidak bisa dilokalisasi, setelah isu sektarian berlangsung,
Saudi-Turki dan Qatar jelas-jelas membantu pemberontak, termasuk AS dengan alasan mengusir ISIS
tetapi banyak menjatuhkan korban dari warga sipil.
Assad dibantu oleh Iran dan
Hizbullah. Kemudian, dukungan asing dan intervensi terbuka turut
memainkan peran besar dalam perang sipil Suriah. Sejak tahun 2014
AS melakukan operasi bermata ganda terhadap ISIS. Disamping menarget ISIS di
Suriah, AS banyak menyerang kelompok pro pemerintah. Tahun 2015 Rusia memasuki
konflik ini dan sejak saat itu telah menjadi sekutu utama Assad. Pada bulan
September 2015, Rusia meluncurkan sebuah kampanye pengeboman terhadap apa yang
disebutnya sebagai “kelompok teroris” di Suriah, termasuk kelompok pemberontak
ISIL dan anti-Assad yang didukung oleh Amerika Serikat. Rusia juga telah
menempatkan penasihat militer untuk menopang pertahanan Assad. Tahun 2016,
pasukan Turki meluncurkan beberapa operasi melawan ISIS di dekat perbatasannya,
dan juga terhadap kelompok Kurdi yang dipersenjatai oleh Amerika Serikat.
Alasan melawan ISIS selalu bermata ganda di Suria, sebab ISIS itu anti-Assad. Pada
bulan April 2017, AS melakukan tindakan militer langsung pertamanya melawan
pasukan Assad, meluncurkan 59 rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan
angkatan udara Suriah dimana pejabat AS percaya bahwa sebuah serangan kimia
terhadap Khan Sheikhoun telah diluncurkan. Setelah Allepo menjadi salah satu
korban, pertarungan di Suriah berlanjut di dua front utama yaitu Ghouta Timur
dan Afrin. Di Ghouta Timur, pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh
pesawat tempur Rusia terus menyerang daerah kantong pemberontak Ghouta Timur,
mengakibatkan ratusan warga sipil tewas. Ghouta Timur dikepung sejak 2013 dan
merupakan kubu pemberontak terakhir yang tersisa di dekat ibu kota, Damaskus. Sedangkan
di Afrin, Turki dan Free Syria Army (FSA) dimulai pada bulan Januari 2018
melakukan operasi militer melawan YPG di Suriah barat laut, dekat Afrin. Juga
di Suriah barat laut, pemberontak Hay’et Tahrir al-Sham mengaku bertanggung
jawab untuk menembaki sebuah pesawat tempur Rusia dekat Idlib pada 3 Februari. Hingga saat ini konflik Suriah telah menyebabkan
meninggalnya ratusan ribu jiwa dan lebih jutaan lainya harus mengungsi dan
meninggalkan tempat tinggal mereka.
Dari uraian konflik diatas ada
beberapa solusi yang bisa digunakan :
1. Menghindari Konflik.
Cara ini digunakan untuk lari dari masalh yang sedang terjadi salah satu
caranya adalah pergi ke negara lain atau mengungsi untuk jangka panjang sampai
masalah tersebut selesai atau reda.
2. Menghadapi Konflik.
Mengahdapi konflik seperti ini merupakan suatu hal yang berisiko, dimana
mereka harus tetap melawan kekejaman rezim assad dan tetap tinggal ditengah perang yang seakan
24 jam tanpa henti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar