Minggu, 22 April 2018

Konflik


KONFLIK BESAR DI SURIAH


            Perang saudara di kawasan Timur Tengah ini, cukup menyita perhatian dunia. Terlihat dari banyaknya pihak yang terlibat disana. Ada Iran, Rusia, Amerika Serikat dan Israel serta tentu saja PBB. Jika dipetakan secara umum, kekuatan di atas terbagi atas dua kekuatan utama. Rezim yang berkuasa di Suriah, pimpinan Presiden Bashar Al-Assad, didukung oleh Iran dan Rusia. Sementara kekuatan oposisi yang ingin menjatuhkan Assad, didukung beberapa negara Islam di Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Sedangkan menurut saya keterlibatan Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Eropa barat lainya hanyalah untuk kepentingan dan tujuan mereka. PBB juga terlibat atau melibatkan diri dalam upaya mendamaikan perang saudara di Suriah. Tapi keterlibatan PBB disni tidak memberikan kemudahan atau keringan bagi para korban karena bantuan yang mereka berikan seperti setengah hati, tau dalam kata lain apa yang mereka lakukan hanya sebuah formalitas sebagai organisasi besar di dunia.
           
            Pada bulan Maret  tahun 2011, demonstrasi damai meletus di Suriah. beberapa demontran ditahan dan banyak yang lainnya. Dikatakan ada beberapa dari mereka yang terbunuh. Pemerintah melakukan tindakan represif terhadap demontran dan pemberontak dan memenjarakan lebih banyak lagi. Kemiskinan, urbanisasi karena pemanasan global, yng menyebabkan gagal panen, juga memperburuk kondisi sosial yang juga memicu kejengkelan terhadap pemerintah. Pada bulan Juli 2011, beberapa pembelot dari militer mengumumkan pembentukan FSA (Free Syiria Army), sebuah kelompok pemberontak yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah. Mulailah terjadi perang sipil di Suriah antara para pemberontak melawan pemerintah. Kemudian konflik pun dipanasi oleh isu sektarin. Banyak jihadis berdatangan ke Suria dengan dukungan sipil, individu atau kelompok bahkan negara. Qatar, Turki dan Saudi dianggap ikut memobilisasi keadaan tersebut, walau tidak dalam bentuknya yang pasti. Peta Perang SuriaKonflik itu tidak bisa dilokalisasi, setelah isu sektarian berlangsung, Saudi-Turki dan Qatar jelas-jelas membantu pemberontak, termasuk AS dengan alasan mengusir ISIS tetapi banyak menjatuhkan korban dari warga sipil.
            Assad dibantu oleh Iran dan Hizbullah. Kemudian, dukungan asing dan intervensi terbuka turut  memainkan peran besar dalam perang sipil Suriah. Sejak tahun 2014  AS melakukan operasi bermata ganda terhadap ISIS. Disamping menarget ISIS di Suriah, AS banyak menyerang kelompok pro pemerintah. Tahun 2015 Rusia memasuki konflik ini dan sejak saat itu telah menjadi sekutu utama Assad. Pada bulan September 2015, Rusia meluncurkan sebuah kampanye pengeboman terhadap apa yang disebutnya sebagai “kelompok teroris” di Suriah, termasuk kelompok pemberontak ISIL dan anti-Assad yang didukung oleh Amerika Serikat. Rusia juga telah menempatkan penasihat militer untuk menopang pertahanan Assad. Tahun 2016, pasukan Turki meluncurkan beberapa operasi melawan ISIS di dekat perbatasannya, dan juga terhadap kelompok Kurdi yang dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Alasan melawan ISIS selalu bermata ganda di Suria, sebab ISIS itu anti-Assad. Pada bulan April 2017, AS melakukan tindakan militer langsung pertamanya melawan pasukan Assad, meluncurkan 59 rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan angkatan udara Suriah dimana pejabat AS percaya bahwa sebuah serangan kimia terhadap Khan Sheikhoun telah diluncurkan. Setelah Allepo menjadi salah satu korban, pertarungan di Suriah berlanjut di dua front utama yaitu Ghouta Timur dan Afrin. Di Ghouta Timur, pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh pesawat tempur Rusia terus menyerang daerah kantong pemberontak Ghouta Timur, mengakibatkan ratusan warga sipil tewas. Ghouta Timur dikepung sejak 2013 dan merupakan kubu pemberontak terakhir yang tersisa di dekat ibu kota, Damaskus. Sedangkan di Afrin, Turki dan Free Syria Army (FSA) dimulai pada bulan Januari 2018 melakukan operasi militer melawan YPG di Suriah barat laut, dekat Afrin. Juga di Suriah barat laut, pemberontak Hay’et Tahrir al-Sham mengaku bertanggung jawab untuk menembaki sebuah pesawat tempur Rusia dekat Idlib pada 3 Februari. Hingga saat ini konflik Suriah telah menyebabkan meninggalnya ratusan ribu jiwa dan lebih jutaan lainya harus mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal mereka.

Dari uraian konflik  diatas ada beberapa solusi yang bisa digunakan :
1.     Menghindari Konflik.
Cara ini digunakan untuk lari dari masalh yang sedang terjadi salah satu caranya adalah pergi ke negara lain atau mengungsi untuk jangka panjang sampai masalah tersebut selesai atau reda.

2.     Menghadapi Konflik.
Mengahdapi konflik seperti ini merupakan suatu hal yang berisiko, dimana mereka harus tetap melawan kekejaman rezim assad  dan tetap tinggal ditengah perang yang seakan 24 jam tanpa henti.


 #STAYSTRONGMYMOSLEMBROTHERANDSISTER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROPOSAL USAHA PRODUKSI RAK SEPATU MULTIFUNGSI

  PROPOSAL USAHA RAK SEPATU MULTIFUNGSI         Disusun oleh: Nama             : Asep Septiawan NPM             : 36417757...